TKW Disiksa Majikan
Radar Madura 3 Januari 2009
Kabur, 4 Tahun Kerja Bawa 2.800 Ringgit BANGKALAN-Malang nian nasib Subaidah, 30, warga Dusun Tor Srajah, Desa Kampak, Kecamatan Geger, ini. Maksud hati ingin mengubah nasib keluarga, justru mendapatkan siksaan dari majikannya di Malaysia. Tak tahan karena terus disiksa, tenaga kerja wanita (TKW) itu nekat kabur dari rumah majikannya. Jumat (26/12) lalu dia sampai di rumahnya kembali dengan membawa bekas siksaan itu di tubuhnya. Saat ditemui di rumahnya kemarin, di tubuh perempuan berjilbab ini ditemukan beberapa luka lebam, bekas tusukan, bekas disetrika hingga bekas luka akibat disiram air panas oleh majikannya. TKI dengan nomor paspor AL. 136045 ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada sebuah keluarga. Pasangan yang mempekerjakannya adalah Asroni Abu Bakar dan Fauziyah Zainal di Trengganu Darul Iman, Malaysia. Keduanya telah menahan Subaidah selama tiga tahun delapan bulan di rumahnya. Tak hanya "disekap", Subaidah sering disiksa. Dia pun tetap dipaksa bekerja tanpa mendapatkan haknya. Karena tak tahan dengan derita yang dialaminya, putri ketiga dari empat bersaudara ini kabur dari rumah majikannya. Berhasil kabur, dia lalu melapor ke polisi Malaysia. "Yang paling sering menyiksa saya itu istrinya (Fauziyah Zainal, Red). Kalau suaminya lebih banyak diam dan hanya melihat perlakuan istrinya kepada saya," cerita Subaidah sambil menitikkan air mata. Siksaan pertama yang diterima Subaidah dari majikan perempuan itu awalnya berupa cubitan. Itu terjadi selama seminggu setelah dia bekerja di Malaysia pada 2004. "Pokoknya, selama seminggu saya masuk sudah dicubit-cubit terus kalau dia marah," ungkapnya. Melihat reaksi Subaidah yang mulai merasa tidak betah dan menyampaikan keinginannya untuk pulang, majikan perempuannya justru semakin gelap mata. Subaidah mengaku disiksa lebih kejam dari sekadar cubitan. "Sejak saya mengatakan ingin pulang, dia menyiksa saya semakin keras. Kepala saya dihentak-hentakkan ke dinding sampai gigi saya patah," ujarnya dengan logat Malaysia. Gigi depan Subaidah memang tak lengkap lagi akibat beberapa kali dibenturkan ke dinding dan dilempari sesuatu oleh majikannya. Kondisi Subaidah diperparah dengan jari-jari tangannya yang sudah tak normal lagi. Setelah menyiksa Subaidah, majikannya mengancam akan menjual perempuan desa tersebut. Apa latar belakang penyiksaannya? Subaidah awalnya berpikir bahwa majikan perempuannya itu cemburu kepadanya. Sebab, majikan laki-lakinya tak pernah berlaku buruk padanya. Tapi perkiraannya keliru. Perempuan yang menyiksanya tidak sedikit pun menaruh rasa cemburu. "Dia menyiksa saya karena tahu saya ini orang miskin, bodoh, dan dari desa. Sejak awal saya memang cerita padanya supaya dia bisa memaklumi keadaan saya," tuturnya. Bukannya mau mengerti, malah majikannya semakin bebas menyiksanya tanpa takut Subaidah melaporkan ke pihak berwajib. Sebab, si majikan tahu bahwa Subaidah adalah lulusan pesantren yang sangat menghormati sebuah sumpah. "Saya disumpah supaya tidak cerita pada siapa pun tentang kondisi saya di sana," tandasnya. Sadar dirinya akan terus menderita, Subaidah akhirnya melanggar sumpahnya kepada si majikan. Pada suatu malam, dia berhasil kabur dari rumah majikannya. Sebelum melapor ke kepolisian Malaysia, dia memberanikan diri datang kepada kakaknya yang juga berada di negeri jiran itu. Dia bersama kakaknya kemudian melaporkan majikannya ke polisi. Laporan itu ditindaklanjuti kepolisian Malaysia dengan mengembalikan Subaidah ke majikan yang sudah menyiksanya selama bertahun-tahun itu. "Sama pak polisi itu majikan saya disuruh mengirim saya pulang ke Indonesia. Padahal, saya berharap mereka memberi sanksi pada orang jahat itu," katanya. Subaidah akhirnya bisa kembali ke tanah air dan dijemput keluarga di Bandara Juanda Surabaya seminggu lalu, Jumat (26/12). Dia hanya membawa hasil kerjanya selama di Malaysia sebesar 2.800 ringgit. "Itu pun saya disuruh bilang 4 ribu ringgit. Ditambah tak boleh cerita pada siapa pun sesampai saya di Indonesia," ungkapnya. Keluarga Subaidah jelas merasa sakit hati. Sambil menangis, Armani, ibu Subaidah, mengatakan bahwa dirinya sangat kecewa kepada majikan anaknya. Dia berharap orang yang telah menyiksa anaknya itu dihukum setimpal. Juga memberikan hak Subaidah yang selama ini tidak diberikan. "Anak saya itu katanya mau digaji 400 ringgit setiap bulan. Ini sudah berapa bulan? Bukan diberi gaji, malah disiksa," tandasnya. (nra/mat)
-